Penyakit diabetes melitus merupakan penyakit yang tidak menular, akan tetapi jumlah penderita penyakit tersebut sangat banyak dibandingkan dengan penyakit menular. Angka kejadian penderita penyakit diabetes melitus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun hal ini disebabkan oleh perubahan gaya hidup dalam hal pola makan dan tidak disertai dengan pengeluaran energi yang cukup seperti kurangnya aktivitas fisik.  Populasi global penderita diabetes melitus sebanyak 382 juta jiwa dan jumlah tersebut diperkirakan pada tahun 2035 mengalami peningkatan mencapai 592 juta jiwa.

Berdasarkan data IDF jumlah penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia sebanyak 10 juta pada tahun tahun 2015, diprediksi akan mengalami kenaikan menjadi 14,1 juta pada tahun 2035, dan menjadi 162 juta penderita diabetes melitus pada tahun 2040. Diabetes melitus merupakan penyakit metabolisme kronik yang memiliki karekteristik adanya peningkatan kadar gula darah (hiperglikemik), gangguan terhadap metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang diakibatkan oleh sekresi insulin, kerja insulin atau keduannya.  Diabetes melitus dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah kecil dan kegagalan berbagai organ, seperti ginjal, mata, dan saraf.

Terapi diabetes melitus biasanya dilakukan menggunakan obat modern yang dibuat dari bahan sintesis, seperti terapi menggunakan insulin  secretagogues (glimepiride), biguanides (metformin), dan α-glucosidase inhibitor (acarbose), tujuan adanya terapi tersebut untuk mencega dan mengobati penyakit diabetes melitus. Terapi dengan menggunakan obat modern yang dibuat dari bahan sintesis dilakukan secara terus menerus sangat berbahaya, karena dapat menimbulkan dampak negatif bagi organ tubuh lainnya. Pada umumnya masyarakat sering memanfaatkan obat modern yang dibuat dari bahan sintesis sebagai pengobatan dibandingkan memanfaatkan pengobatan tradisional yaitu dengan memanfaatkan potensi kekayaan alam seperti tanaman herbal. Tanaman herbal mengandung senyawa-senyawa yang mempunyai khasiat pengobatan, yang dikenal sebagai senyawa fitokimia, yaitu kelompok senyawa alami yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan dan mengobati beberapa penyakit. Adapun pemanfaatan tanaman herbal tidak memiliki efek samping yang berbahaya bagi kesehatan karena bisa dicerna oleh tubuh sehingga aman bagi kesehatan.

Labu kuning adalah salah satu tanaman obat yang diketahui memiliki efek hipoglikemik dan bertindak sebagai antidiabetes. Labu kuning juga banyak dimanfaatkan secara tradisional sebagai obat di beberapa negara seperti Cina, Pakistan, India, Yogoslavia, Mexico, Amerika, dan Brazil. Telah dilaporkan bahwa biji  labu  kuning  mengandung antioksidan alami seperti; flavonoid, alkaloid,  saponin,  kukurbitasin,  lesitin,  resin,  stearin,  senyawa  fitosterol,  fenolik, asam lemak, squalen, tirosol, asam vanilat, vanillin, luteolin dan asam sinapat, vitamin (termasuk vitamin β-karoten, vitamin A, vitamin B2, α-tokoferol, vitamin C dan vitamin E);  antioksidan pada biji labu kuning dapat diperlukan oleh tubuh untuk mengatasi dan mencegah adanya stres oksidatif pada penderita diabetes melitus.

Studi yang telah dilakukan oleh Suwanto & Rahmawati, 2019, tentang aktivitas hipoglikemik diet pakan ekstrak biji labu kuning pada mencit diabetes melitus terpapar streptozotocin. Hasil studi tersebut bahwa berbagai pemberian dosis ekstrak biji labu kuning yang mengandung antioksidan  berpengaruh terhadap peningkatan berat badan dan penurunan glukosa darah mencit diabet terpapar streptozotocin. Antioksidan pada biji labu kuning berperan dalam perlindungan terhadap kerusakan metabolik, serta dapat mencegah adanya displipidemia atau komlikasi yang disebabkan oleh dibates melitus.

Penelitian yang telah dilakukan penulis masih pada tataran riset pendahuluan belum aplikatif, harapan kedepannya menjadi salah satu dasar pertimbangan untuk penelitian lebih lanjut dalam pengembangan dan pemanfaatan biji labu kuning sebagi fitofarmaka diabetes melitus.

Penulis : Suwanto, Roihatul Zahroh, Yuanita Syaiful

Dosen Prodi Ilmu Keperawatan Universitas Gresik

Editor  : Mono Pratiko Gustomi

Informasi lebih detailnya kami sajikan pada artikel ilmiah, adapun artikel dapat di akses pada tautan di bawah ini:

https://jurnal.uns.ac.id/jpscr/article/view/27292